Layout Image

Archive for 2012

“Resolusi tahun baru untuk hidup lebih hidup”

Dalam waktu beberapa minggu, maka tanpa terasa tahun 2012 akan segera berakhir. Tahun 2013 akan segera muncul dan menjelang. Apakah ada persiapan yang perlu kita buat sebelum tahun 2013 datang?.

Selain bersiap untuk meniup terompet tahun baru, salah satunya adalah resolusi tahun baru yang akan membuat kita lebih bersiap lagi dalam menjalani tahun yang baru.

Berikut ini adalah tips-tips Robin Sharma untuk me-refleksi diri untuk mendapatkan tahun yang lebih baik dari sebelumnya :

1.Celebration / perayaan
Apa yang sudah dilakukan atau dicapai selama 12 bulan terakhir? Adakah sesuatu hal yang menggembirakan dan membanggakan? Tulis dan catat, untuk dijadikan semacam ‘piagam penghargaan’ bagi pribadi dan rayakan !
2.Education/pendidikan
Apa yang sudah dicapai dalam bidang akademis? Atau mungkin banyak mendapat pembelajaran hidup yang berharga? Mungkin bahkan menambah gelar dan memperoleh pelatihan baru?
3.Clarification/klarifikasi
Apa hal-hal yang diinginkan dan sudah tercapai tahun ini? Apakah ingin dibuat lebih baik lagi atau akan terus diusahakan hingga tercapai yang lebih baik?
4.Graduation/pembagian
Dari hal-hal yang sudah dicapai dan yang belum, bagi lagi dan tulis kembali agar bisa tercapai di tahun yang mendatang.
5.Visualization/Visualisasi
Tutup mata dan lalu bayangkan apa yang akan terjadi. Pastikan itu terjadi. Lalu berjuanglah!.

Memang membuat resolusi dan menjalankannya adalah dua hal yang jauh berbeda dan lebih sulit untuk dilakukan daripada hanya sekedar ditulis.

Ada pandangan lain untuk ‘mempermudah’ membuat resolusi ini agar menjadi tahun yang lebih baik dan secara umum, menjadi orang yang lebih baik pula.

1.Speak Less, Reflect More
Pada intinya lebih sedikit berbicara dan lebih banyak berpikir sebelum bertindak. Daripada dikatakan sebagai ‘tong kosong banyak bunyinya’.
2.Worry less,love more
Jangan terlalu khawatir dan lebih bergembira dalam menjalani hidup. Bagaimanapun, kita hanya hidup satu kali di dunia ini.
3.Hold less, express more
Tidak perlu terlalu stress dalam urusan material dan duniawi, bukankah dengan berbagi pengetahuan dan emosi – akan jauh lebih menyenangkan dan membuat lebih berbahagia?
4.Judge less, forgive more
Berusahalah untuk berpikiran lebih terbuka. Kurangi untuk banyak menghakimi dan mengkritisi orang lain, dan lebih memaafkan dan memahami.
5.Do less,be more
Tidak perlu terlalu serius menghadapi dunia dan diri sendiri. Dengan kedalaman pemahaman dan penerimaan diri, maka dunia akan terasa lebih indah dan lebih mudah untuk dijalani.

Jadi, apa nih resolusinya untuk tahun baru ini?

Selamat tahun baru 2013 ya. Selamat menikmati hidup.

Cheers and wish you all the best.
—-
Ditulis oleh:
Cynantia.R,S.Ds,Grad.Dipl.Journ

Sumber:
www.jurnalalhamdulillah.com
www.kompasiana.com

“Teknik berbicara di depan umum”

Betapa mengagumkannya melihat seorang Barrack Obama berbicara dengan santai di muka umum. Dia tampak tenang, terkendali dan penuh percaya diri.

Sayangnya tidak semua orang bisa melakukan hal itu saat berbicara di depan umum. Ada yang gugup, ada yang gentar, ada yang bermandikan keringat, ada pula yang kehilangan kepercayaan diri mendadak saat menatap khalayak ramai.

Berikut ini adalah teknik-teknik berbicara di depan umum yang dimuat dalam jurnal “Teknik berbicara di depan umum” oleh Senny Handayani,SE :

1.Mempersiapkan diri dengan baik
Tentunya sebelum mulai, kita harus tahu dengan pasti dan jelas apa tujuan dari pidato yang akan dipersiapkan. Apakah untuk memberitahukan suatu informasi, atau bertujuan mempengaruhi atau sekedar menghibur?.
Dan tentunya, harus jelas juga dengan siapa kita akan berbicara. Kalangan mahasiswa dan anak-anak TK tentunya akan menjadi audience yang berbeda dan memerlukan pendekatan yang berbeda.
Persiapan lain seperti pakaian, kesehatan dan penampilan juga perlu dipersiapkan dengan baik agar segala sesuatunya berjalan dengan lancar.
2.Menyiapkan materi
Tentunya menyiapkan materi dengan tujuan awal dari pidato itu sendiri. Kaitkan dengan hal-hal yang ingin disampaikan, namun gunakan pemilihan bahasa yang jelas, tepat dan menarik.
3.Menyampaikan materi
Ini tentunya point yang paling penting. Dari segi cara penyampaian, ada 4 jenis berpidato, yaitu:
1.Impromptu, yaitu pidato yang dilakukan secara mendadak. Misalnya saat perayaan ulang tahun seseorang.
2.Manuscript, yaitu pidato yang dilakukan sambil membaca naskah.
3.Memoriter, yaitu pidato yang dilakukan setelah menghafalkan naskah.
4.Extempore, yaitu pidato yang materinya disiapkan sebelumnya namun hanya berupa outlines dan supporting points saja.

Maka, cara penyampaian yang baik adalah dengan :

1.Memperhatikan kontak mata dengan para audiens
2.Mengucapkan kalimat dengan jelas dan menggunakan berbagai keragaman dan ritme yang jelas dan menarik
3.Dilakukan dengan penuh kepercayaan diri

Pada intinya, bagaimana seseorang bisa berbicara di depan umum dengan tampak begitu mudah adalah karena seseorang tersebut memiliki kepercayaan diri. Dan itulah kunci utama dari teknik berbicara didepan umum.

Ditulis oleh:
Cynantia.R,S.Ds,Grad.Dipl.Journ
Sumber:
Jurnal “Teknik berbicara di depan umum” oleh Senny Handayani SE, vol 4 no 1 Juni 2008 Majalah Competitive Politeknik Pos Indonesia

“Carbon Footprint”

With each year passing by, people are more and more concerned with the environment. Going green and save the environment are some of the buzz that start to heat the world. Not only scientist, foundation but also celebrities also encouraging people to do more for the environment.

One of the important things of saving the planet, beside the usual 3R of reuse, reduce and recycle is how much does one take their carbon footprints.

What is a carbon footprint? According to Wikipedia, a carbon footprint is the total set of a greenhouse gas emissions caused by an organization, event or product. Usually expressed in the total amount of using of carbon dioxide (Co2).

How does one emitting a Co2?

When one drive a car, the fuel create a certain amount of Co2. When one heat their house with oil, gas or coal. When one using any electrical equipment in their house, office, library or any other place. When one buy any food and good, the production of the food and good also emit some amount of Co2.
And why does our carbon footprints should worry us? Because carbon footprint is another gas beside ozone and methane that also causing global warming and may harm us in the process of climate change.

Carbon footprints may produce from products such as paper, plastic, glass, cans, computer, carpet, tires, lumber and road. Transportation like cars, buses, trains, airplanes, ship and even another places such as home, restaurant and coffee shops. The government and industry need to face the challenge of reducing their carbon footprints in order to save the planet and save their product.

Indonesia has a third place in the world as the largest emitter of Co2. According the organization World Wildlife Fund (WWF), the average Indonesian produce 1,7 tons of Co2 each year. We can count our carbon footprints by using any carbon footprints calculator available online, that’s why we can count, predict, save then act.

There are ways that we can do in order to reduce our number of carbon footprint :
1.House : plant some trees, water the plant, keep the leaves as soil, save water as cleaning.
2.Office : reduce use of paper and photocopying, reuse items like envelope, use recycled paper, use mugs instead of disposable cups, use bulletin board rather than passing out memos.
3.Getting through places :buy a hybrid car, consider walk or use a bicycle rather than using any transportation system.
4.Diet : decrease meat consumption and try to eat more fresh vegetable and fruit instead.
5.Lighting : change the light bulbs with compact fluorescent.
6.Recycling : recycling products mean less energy and less carbon footprints.
7.Air conditioning : try to turn it off while not using. It is also the same with any other electrical equipment.
Don’t let it on 24/7, use it only in time of need.

—-

Written by:
Cynantia Rachmijati,S.Ds,Grad.Dip.Journ

Source:

http://www.wikipedia.com

http://timeforchange.org/what-is-a-carbon-footprint-definition

http://www.planetmole.org/indonesian-news/calculating-your-carbon-footprint.html

http://green.wikia.com/wiki/How_to_reduce_your_carbon_footprint

“Kekerasan di sekolah”

Saat ini kekerasan di sekolah telah banyak menjadi berita utama di berbagai tayangan TV swasta. Tidak hanya kekerasan antara murid, namun juga antar guru dan bahkan hampir melanda sebagian besar masyarakat. Namun yang paling memprihatinkan adalah kekerasan yang terjadi di sebagian besar sekolah, dimana sekolah adalah tempat untuk menuntut pendidikan , bukan ajang melakukan kekerasan.

Sebenarnya kekerasan di sekolah bukanlah hal yang baru. Eric Harris dan Dylan Klebold adalah dua pelajar dari Columbine High School di Littleton Colorado, Amerika, yang pernah menewaskan 11 rekannya dan seorang guru pada 20 April 1999. Diberitakan bahwa mereka sering dilecehkan teman-temannya dan merasa tersinggung, sehingga menuntut balas dan melakukan penembakan tersebut. Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Sekarang mulai terbentuk gank-gank yang saling memperebutkan kekuasaan masing-masing dan berkelahi, tidak perduli perempuan atau laki-laki. Bila dibiarkan mungkin saja suatu saat ada murid yang tersinggung atau merasa dilecehkan lalu menuntut balas. Sehingga hal ini perlu mendapatkan perhatian dan penanganan lebih lanjut sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan kekerasan dalam diri seseorang timbul. Apakah karena game, tayangan kekerasan di TV, keadaan dan lain sebagainya. Eric harris dan Dylan Klebold adalah 2 contoh pemuda yang dikabarkan sering bermain game yang tergolong penuh kekerasan seperti Doom, Quake, dan Redneck Rampage. Mereka telah lama merasa terbuang, namun tidak ada yang memperhatikan, bahkan tidak oleh pihak sekolah. Karena itu maka sekolah sebaiknya mengambil tindakan lebih pro-aktif dalam menangani kekerasan di sekolah.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membentuk sekolah agar lingkungannya menjadi kondusif, baik untuk para murid, guru dan staff. Sekolah yang kondusif mendukung lingkungan yang aman, pendidikan yang baik, dan tingkah laku yang terpuji. Program sekolah yang baik akan tergantung pada berbagai faktor seperti keamanan, hubungan sosial yang sehat, emosional dan perkembangan akademik yang baik. Karena itu, karakteristik sekolah yang aman adalah :

1.Fokus pada keberhasilan akademik
2.Melibatkan keluarga secara menyeluruh
3.Mengembangkan hubungan dengan masyarakat
4.Menekankan pada hubungan yang positif antara para murid dan staff
5.Membahas mengenai masalah keamanan sosial secara terbuka
6.Memperlakukan para murid secara adil dan bijaksana
7.Menciptakan cara agar para murid tidak segan untuk saling berbagi
8.Mempersiapkan sarana bagi para murid yang diduga dilecehkan atau mengalami tekanan
9.Mendukung karakter kepribadian yang baik
10.Mengenali dan membantu menyelesaikan masalah
11.Membantu para murid untuk bersikap lebih bijaksana dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu masalah

Sekolah dapat berusaha sebaik mungkin, namun semuanya kembali pada usaha pribadi dan keluarga masing-masing. Bagaimanapun bagi para murid, kekerasan dapat terjadi karena berbagai kombinasi peristiwa, perbuatan dan emosi yang mungkin dapat menimbulkan kekerasan, baik pada diri sendiri atau orang lain.
Dari hasil penelitian, mereka yang cenderung melakukan kekerasan adalah mereka yang sering kali merasa tidak diterima di lingkungan atau cenderung memperoleh pelecehan atau bullying. Karena itu akan penting bagi pihak sekolah dan keluarga untuk mengenali tanda-tanda awal tersebut, sebelum terjadi hal-hal yang lebih buruk.

——-

Ditulis oleh
Cynantia Rachmijati,S.Ds,Grad.Dipl.Journ
Sumber
www.cecp.air.org
www.wikipedia.com

“Kisah hikmah”

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” – Al Baqarah : 155

Kisah berikut ini diceritakan sendiri oleh orang yang mengalaminya kepada Syaikh Sulaiman bin Abdul Karim Al-Mufarrij.

Orang itu berkata,”Aku mempunyai putri balita yang menderita penyakit di tenggorokannya. Telah kubawa dia keluar masuk beberapa rumah sakit dan berkonsultasi dengan banyak dokter, tetapi tidak ada hasilnya. Penyakit putriku bahkan memburuk. Hampir-hampir aku-pun jatuh sakit memikirkannya dan perhatian seluruh keluarga tersita untuk mengurusnya. Yang bisa kami lakukan hanyalah memberinya obat untuk mengurangi rasa sakitnya. Kalaulah bukan karena rahmat Allah SWT, rasanya kami sudah putus asa”.

Namun suatu hari ada seorang yang saleh meneleponku dan menyampaikan hadits Rasulullah SAW bahwa,”Obatilah orang-orang yang sakit diantara kalian dengan bersedekah”.

Kukatakan kepadanya,”Sungguh aku sudah banyak bersedekah!”.
Tapi beliau berkata,”Bersedekahlah dengan niat agar Allah SWT menyembuhkan putrimu”.

Aku langsung mengeluarkan sedekah yang sangat sederhana kepada seorang fakir. Tak ada perubahan pada putriku. Kusampaikan hal itu kepada orang saleh tersebut.

Katanya,”Anda adalah orang yang banyak mendapatkan nikmat dan harta. Cobalah engkau bersedekah dalam jumlah lebih banyak”.

Setelah mendengar itu, aku mengisi mobil sepenuh-penuhnya dengan beras, lauk pauk dan bahan makanan lainnya lalu kubagikan langsung kepada orang-orang yang membutuhkannya sehingga mereka merasa senang menerimanya. Dan demi Allah (aku bersumpah), aku tidak akan pernah lupa ketika sedekah itu habis kubagikan. Alhamdulillah putriku yang sedang sakit sembuh sempurna. Sejak saat itu aku meyakini bahwa diantara sebab-sebab syar’I yang paling utama untuk meraih kesembuhan adalah dengan sedekah.

Dan sekarang berkat karunia Allah SWT, putriku telah tiga tahun tidak mengalami sakit apapun. Akupun banyak mengeluarkan sedekah terutawa mewakafkan harta pada hal-hal yang baik dan Alhamdulillah setiap hari aku merasakan nikmat dan kesehatan kepada diri sendiri maupun pada keluarga. Juga, aku merasakan keberkahan dalam hartaku”.

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka ; dan bagi mereka pahala yang banyak”- Al Hadid:18

—-

Ditulis oleh:
Cynantia.R
Sumber:
“Sedekah Cinta” oleh Diana.E dan Ary.Mizan – 2008

“Merokok : makruh atau haram?”

Beberapa waktu yang lalu, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa mengenai merokok. Masih banyak hal yang belum jelas mengenai fatwa tersebut apakah makruh atau haram. Hal ini tentunya tidak menguntungkan bagi mereka yang memang gemar mengisap rokok setiap harinya dimana saja.

MUI memang belum mengeluarkan fatwa secara mutlak, namun mereka memutuskan bahwa merokok dianggap haram bila membahayakan jiwa dan makruh bila tidak menganggu. Secara umum, MUI menyatakan haram merokok bagi anak-anak dan remaja dan makruh bagi orang dewasa.

Dahulu pada jaman Nabi, belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai nikotin dan manfaat maupun bahayanya, sehingga hal ini belum dibahas lebih lanjut. Namun rokok semakin marak dihisap dimana-mana hingga dikhawatirkan dapat merusak kesehatan maupun akhlak masyarakat. Di salah satu tayangan berita televisi swasta bahkan menyebutkan bahwa biaya membeli rokok lebih diutamakan oleh sebagian orang daripada biaya untuk membeli lauk pauk dan bahkan minuman susu bayi. Hal ini jelas mengkhawatirkan.

Rokok sendiri lebih banyak mengandung hal negatif daripada positif. Selain mengandung sekitar 200 bahan kimia yang dapat membahayakan kesehatan, rokok juga dapat menganggu kesehatan paru-paru. Baik perokok aktif maupun sekedar pasif. Badan kesehatan dunia WHO menyatakan bahwa di Amerika Serikat sekitar 346 ribu orang meninggal akibat gangguan penyakit yang disebabkan oleh rokok. Rokok juga menganggu produksi hemoglobin dalam tubuh, yaitu zat pembentuk darah merah. Penghisap rokok rentan terkena kanker paru-paru, kerongkongan, serangan jantung dan tekanan darah tinggi. Semuanya seperti hal yang tercantum dalam tulisan peringatan bahaya rokok yang berada di kotak bungkus rokok. Bahkan di Australia, setiap bungkus rokok memiliki gambar skema rontgen paru-paru yang rusak akibat rokok.

Mengenai hukum rokok itu sendiri, dalam surat Al A’raf ayat 157 tercantum,”Asap dan bau rokok adalah keji”. Sedangkan hukum makruh itu sendiri adalah tidak berdosa bila dilakukan namun akan lebih baik lagi bila tidak dilakukan. Dalam hal ini para ulama berkeyakinan bahwa merokok itu makruh karena baunya dianggap tidak terlalu menganggu dan bisa disamakan seperti orang yang makan petai, misalnya. Namun ada juga yang berpendapat bahwa merokok tidak terlalu menganggu ibadah seperti minum minuman keras.

Keputusan Ulama akhirnya mengacu pada satu kesimpulan, bahwa merokok itu makruh atau haram namun disesuaikan dengan logika dan pertimbangan masing-masing. Pria yang merokok maka termasuk makruh, namun bila ia ternyata menderita TBC maka merokokpun menjadi haram.
Namun banyak juga pihak yang kurang setuju dengan keputusan ini. Selain para perokok itu sendiri, bagaimanapun industri pembuat rokok juga menyerap banyak tenaga kerja. Bila rokok diharamkan maka bayangkan betapa banyaknya para pegawai yang harus kehilangan pekerjaannya.

Ditulis oleh:
Cynantia Rachmijati,S.Ds,Grad.Dip.Journ
Sumber:

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/03/11/fatwa-nu-merokok-itu-makruh

http://royghofur.wordpress.com/2008/09/03/hukum-merokok-makruh-atau-haram/

http://soni69.tripod.com/fiqh/fiqh_ahkam_merokok.htm

“Dyslexia”

Tom Cruise, Albert Einstein, Orlando Bloom, Keanu Reeves, George Washington, John Lennon, Agatha Christie dan bahkan Leonardo Da Vinci. Apa kesamaan yang dipunyai oleh orang-orang hebat, sukses dan terkenal ini? Mereka memiliki penyakit dyslexia.

Apa itu dyslexia?

Dyslexia adalah suatu penyakit kesulitan dalam belajar yang menganggu kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, mengeja dan terkadang berbicara. Dyslexia tidak menganggu tingkat intelektualitas seseorang karena pengidap dyslexia ditemukan dalam berbagai tingkat intelektualitas manusia.

Para pengidap dyslexia memiliki gangguan hubungan syaraf yang menyebabkan sulitnya otak untuk menerjemahkan gambar dari mata dan telinga ke bahasa yang mudah untuk dimengerti. Dyslexia umumnya ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.

Ada tiga tipe dyslexia, yang pertama adalah “trauma dyslexia” yaitu gangguan pada otak yang terjadi pada otak pada saat masih anak-anak. Lalu ada juga “dyslexia utama”, yaitu kerusakan yang terjadi pada otak bagian kiri hingga mempengaruhi kesulitan dalam menulis dan membaca. Yang ketiga adalah “dyslexia perkembangan”, yaitu dyslexia yang terjadi karena gangguan hormon yang terjadi selama masa pertumbuhan.

Beberapa gejala diantaranya bisa ditemukan pada usia awal seperti umur 7-8 tahun seperti kesulitan mengingat huruf dan angka, kesulitan mengekspresikan diri secara verbal dan kadang pula kesulitan untuk berbicara secara lancar sehingga terkesan untuk bicara gagap. Mereka juga sering bicara terbalik-balik seperti “aminal” untuk “animal”(binatang), “hekalopter” untuk ”helicopter”(helicopter) dan lain sebagainya.

Belum ada penyebab pasti mengapa dyslexia terjadi, namun dikatakan bahwa salah satu penyebabnya adalah faktor keturunan. Dyslexia tidak dapat disembuhkan secara total, namun keadaannya bisa diperbaiki dengan berbagai terapi, diet makanan khusus hingga vitamin dan nutrisi khusus.

Di Indonesia sendiri, dikabarkan bahwa Nirina Zubir adalah salah seorang pengidap dyslexia, namun hal itu tidak menghambatnya untuk mempelajari berbagai bahasa dari Inggris, Cina, Jepang hingga Korea. Terbukti bahwa dyslexia bukanlah suatu hambatan, melainkan suatu “keistimewaan” yang unik.

—-

Ditulis oleh:
Cynantia Rachmijati,S.Ds, Grad.Dip.Journ
Sumber:
www.wikipedia.com

http://www.medicinenet.com/dyslexia/article.htm

tabloid “Wanita Indonesia”, edisi April 2009

“Bullying dalam dunia pendidikan”

A.PENDAHULUAN

Seorang peserta didik menghabiskan waktu di sekolah dari mulai pagi hingga petang. Selain menambah keahlian dan kreatifitasnya dalam pembelajaran dan pendidikan, ia juga belajar untuk bergaul dengan orang lain dalam lingkungan institusi pendidikan tersebut.

Mungkin ia belajar untuk mengenal si cengeng, si pemarah, si komedian, si cantik, si pemimpin dan lain sebagainya. Namun ia juga mulai mengenal bentuk karakter lain yang akhir-akhir ini mulai menjadi sorotan banyak pihak. Yaitu si bully.

Karakter bully ini banyak membuat ketakutan dan cenderung adalah mereka yang dihindari oleh para peserta didik karena perilaku mereka yang tidak menyenangkan. Kekerasan di institusi pendidikan bisa dilakukan oleh siapa saja, baik antar teman, antar siswa, antar geng di sekolah, kakak kelas, bahkan guru. Lokasi kejadiannya mulai dari ruang kelas, toilet, kantin, halaman, pintu gerbang, bahkan di luar pagar sekolah. Akibatnya, sekolah bukan lagi tempat yang menyenangkan bagi siswa, tetapi justru menjadi tempat yang menakutkan dan membuat trauma.

Bullying berasal dari bahasa Inggris yaitu “bully” yang artinya menggertak atau menggangu. Mereka bisa mengganggu secara fisik atau emosional. Kasus bullying ini sebaiknya mulai menjadi salah satu pusat perhatian bagi para pendidik dan para guru karena masalah ini terus saja meningkat kadar dan kasusnya dari tahun ke tahun. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai tindak kekerasan atau “bullying” di sekolah sebagai suatu sikap yang telah keluar dari nilai-nilai kemanusiaan dan tujuan pendidikan.

Dan kaitannya dengan pendidikan karakter dan motivasi belajar siswa, salah satu kutipan mengenai bullying secara verbal bisa digambarkan sebagai berikut,”Sticks and stones may break your bones but mean words can tear holes in your spirit”[anonymous]. Yang artinya adalah “tongkat dan batu dapat mematahkan tulangmu, tapi ucapan yang jahat dapat menghancurkan semangatmu”.

Perilaku bullying dapat menghancurkan semangat dan motivasi siswa dan terutama menciptakan situasi yang tidak nyaman untuk belajar. Karena itu perilaku bullying ini perlu mendapatkan pemahaman dan perhatian lebih lanjut. Selanjutnya, makalah ini akan membahas mengenai perilaku, penyebab, dampak dan solusi mengenai bullying dalam dunia pendidikan.

B.ISI
1.Pengertian bullying

Bullying berasal dari kata bully, yang dalam bahasa inggris yang berarti penggertak, orang yang mengganggu orang lemah, menggertak, mengganggu (Echols dan Hassan, 1992:87)

Menurut Bambang Sudibyo yang dikutip dalam Kompas (Senin, 01 Mei 2006) menyebutkan bahwa bullying bermakna penyiksaan atau pelecehan yang dilakukan
tanpa motif tetapi dengan sengaja atau dilakukan berulang-ulang terhadap orang yang lebih lemah.

Sedangkan menurut SEJIWA (2006), bullying diartikan sebagai tindakan penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tak berdaya. Sarwono (Astuti, 2008) menyebutkan bahwa bullying adalah penekanan dari sekelompok orang yang lebih kuat, lebih senior, lebih besar, lebih banyak, terhadap seseorang atau beberapa orang yang lebih lemah, lebih junior, lebih kecil.

Kata bullying sulit dicari padanan kata yang sesuai dalam bahasa Indonesia. Beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, bullying dapat diartikan sebagai suatu tindakan untuk menyakti orang lain yang dilakukan oleh pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah secara berulang-ulang sehingga korban merasa tertekan.

Definisi lain menyebutkan bahwa : “Bullying is when a person is picked on over and over again by an individual or group with more power, either in terms of physical strength or social standing” [ bullying adalah ketika seseorang disiksa secara berulang-ulang oleh individu atau kelompok dengan kekuatan yang lebih besar, baik secara fisik ataupun sosial].

Maka dari semua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa bullying adalah kegiatan penyiksaan pada suatu individu yang dilakukan secara berulang-ulang secara disengaja oleh individu atau kelompok lain yang merasa lebih berkuasa agar korban merasa tertekan.

2.Faktor penyebab bullying
Astuti (2008) mencirikan sekolah yang pada umumnya mudah terdapat kasus bullying yaitu :
a) Sekolah yang di dalamnya terdapat perilaku deskriminatif baik dikalangan guru maupun siswa;
b) Kurangnya pengawasan dan bimbingan etika dari para guru dan petugas sekolah;
c) Terdapat kesenjangan yang besar antara siswa yang kaya dan miskin;
d) Adanya pola kedisiplinan yang sangat kaku ataupun terlalu lemah;
e) Bimbingan yang tidak layak dan peraturan yang tidak konsisten.

Faktor-faktor penyebab terjadinya bullying antara lain (Ariesto, 2009):
a) Keluarga.
Pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah : orang tua yang sering menghukum anaknya secara berlebihan, atau situasi rumah yang penuh stress, agresi, dan permusuhan. Anak akan mempelajari perilaku bullying ketika mengamati konflik-konflik yang terjadi pada orang tua mereka, dan kemudian menirunya terhadap teman-temannya. Jika tidak ada konsekuensi yang tegas dari lingkungan terhadap perilaku coba-cobanya itu, ia akan belajar bahwa “mereka yang memiliki kekuatan diperbolehkan untuk berperilaku agresif, dan perilaku agresif itu dapat meningkatkan status dan kekuasaan seseorang”. Dari sini anak mengembangkan perilaku bullying;

b) Sekolah.
Karena pihak sekolah sering mengabaikan keberadaan bullying ini, anak-anak sebagai pelaku bullying akan mendapatkan penguatan terhadap perilaku mereka untuk melakukan intimidasi terhadap anak lain. Bullying berkembang dengan pesat dalam lingkungan sekolah sering memberikan masukan negatif pada siswanya, misalnya berupa hukuman yang tidak membangun sehingga tidak mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antar sesama anggota sekolah;

c) Faktor Kelompok Sebaya.
Anak-anak ketika berinteraksi dalam sekolah dan dengan teman di sekitar rumah, kadang kala terdorong untuk melakukan bullying. Beberapa anak melakukan bullying dalam usaha untuk membuktikan bahwa mereka bisa masuk dalam kelompok tertentu, meskipun mereka sendiri merasa tidak nyaman dengan perilaku tersebut.

d)Kondisi lingkungan sosial
Kondisi lingkungan sosial dapat pula menjadi penyebab timbulnya perilaku bullying. Salah satu faktor lingkungan social yang menyebabkan tindakan bullying adalah kemiskinan. Mereka yang hidup dalam kemiskinan akan berbuat apa saja demi memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga tidak heran jika di lingkungan sekolah sering terjadi pemalakan antar siswanya.

e)Tayangan televisi dan media cetak
Televisi dan media cetak membentuk pola perilaku bullying dari segi tayangan yang mereka tampilkan. Survey yang dilakukan kompas (Saripah, 2006) memperlihatkan bahwa 56,9% anak meniru adegan-adegan film yang ditontonnya, umumnya mereka meniru geraknya (64%) dan kata-katanya (43%).

3.Karakteristik perilaku bullying

Menurut Rigby (Astuti, 2008:3) tindakan bullying mempunyai tiga karakteristik terintegrasi, yaitu :

a.Adanya perilaku agresi yang menyenangkan pelaku untuk menyakiti korban
b.Tindakan itu dilakukan secara tidak seimbang sehingga menimbulkan rasa tertekan korban
c.Perilaku itu dilakukan secara berulang-ulang dan terus-menerus

Riset membuktikan bahwa pelaku bullying memiliki citra diri yang relatif positif, sebagian besar populer. Mereka sering berada dalam kelompok dua atau tiga orang yang memberi dukungan dan sering bergabung ketika terjadi bullying.

Ketika seorang peneliti menanyakan 176 anak sekolah menengah atas usia 15 hingga 16 tahun mengenai pengalaman mereka yang berhubungan dengan bullying, baik sebagai penonton atau korban atau pelaku, 69% menyatakan bahwa pelaku adalah penyebab dari bullying. Para murid menyatakan bahwa para pelaku melakukannya karena merasa tidak percaya diri dan melakukan bullying untuk meningkatkan kekuasaan, kepercayaan diri , status dan popularitas.

Ciri-ciri pelaku bullying antara lain :Sering bersikap agresif terhadap orang dewasa bahkan terhadap ortu dan guru; menguasai teman-temannya, menekan lainnya dan menunjukkan dirinya dengan kekuatan dan ancaman; cepat marah, impulsif, sulit diatur, kasar, dan hanya
menunjukkan simpati yang sangat kecil kepada korban bully; pandai beralasan untuk mencari jalan keluar dari situasi yang sulit; ketika dipergoki, mereka mengatakan hanya iseng atau bercanda.

Seseorang bisa menjadi pelaku bullying karena beragam sebab: kemampuan adaptasi yang buruk, pemenuhan eksistensi diri yang kurang (biasanya pelaku bullying nilainya kurang baik), adanya pemenuhan kebutuhan yang tidak terpuaskan di aspek lain dalam kehidupannya, hubungan keluarga yang kurang harmonis, bahkan bisa jadi si pelaku ini juga merupakan korban bullying sebelumnya atau di tempat lain.

Melalui pelatihan yang diselenggarakan oleh Yayasan Sejiwa (2007), terangkum beberapa pendapat orang tua tentang alasan anak-anak menjadi pelaku bullying, di antaranya:
1.Karena mereka pernah menjadi korban bullying
2.Ingin menunjukkan eksistensi diri
3.Ingin diakui
4.Pengaruh tayangan TV yang negatif
5.Senioritas
6.Menutupi kekurangan diri
7.Mencari perhatian
8.Balas dendam
9.Iseng
10.Sering mendapat perlakuan kasar dari pihak lain
11.Ingin terkenal
12.Ikut-ikutan.

Maka bisa disimpulkan, mereka yang menjadi pelaku bullying adalah mereka yang :
1.Bisa perempuan atau laki-laki
2.Bersikap agresif atau bahkan tampak mudah bergaul
3.Manipulatif
4.Mendominasi dan memiliki perasaan narsis
5.Memiliki kemampuan bersosialisasi yang cukup buruk
6.Tidak memiliki empati pada orang lain
7.Populer dan dikagumi orang lain, sehingga beranggapan akan bisa ‘lolos’ dari hukuman
8.Tampak percaya diri namun sebenarnya tidak
9.Merupakan korban bully orang lain sehingga melakukannya lagi pada yang lain
10.Memiliki masalah keluarga dan masalah psikologis yang tak terselesaikan

Para pelaku bullying ini sebaiknya ditindaklanjuti karena berdasarkan penelitian maka mereka cenderung akan :
a.Banyak para pelaku bullying sulit untuk melanjutkan pendidikan sehingga cenderung drop-out
b.Cenderung berlanjut ke arah kegiatan kriminal
c.Bergaul dengan para bully yang lain sehingga tingkat kehidupannya tidak membaik
d.Saat dewasa cenderung menjadi anti sosial dan dominan pada kekerasan
e.Cenderung menciptakan generasi bully yang selanjutnya
f.Cenderung terlibat dalam penyalahgunaan obat terlarang dan minuman keras

4.Karakteristik korban bullying
Biasanya mereka yang menjadi korban bullying memiliki karakteristik dibawah ini :
a.Mungkin mereka memiliki semacam kekurangan atau perbedaan , baik secara fisik ataupun materi
b.Mungkin mereka memiliki masalah di rumah yang membuat mereka sedih
c.Mereka memiliki sesuatu yang membuat para bully cemburu, misalnya bakat
d.Mereka tidak ingin melakukan apa yang diperintahkan oleh para bully sehingga mereka dihukum
e.Mereka tidak bisa membela diri mereka sendiri

Tanda-tanda anak korban bullying :
a.Kesulitan dalam bergaul
b.Merasa takut datang ke sekolah sehingga sering bolos
c.Ketinggalan pelajaran
d.Mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran
e.Kesehatan fisik dan mental (jangka pendek/jangka panjang) akan terpengaruh

5.Bentuk perilaku bullying

Bentuk bullying menurut Coloroso (2007:47) dibagi menjadi tiga jenis, yakni :

a. Bullying Fisik
Penindasan fisik merupakan jenis bullying yang paling tampak dan paling dapat diidentifikasi diantara bentuk-bentuk penindasan lainnya, namun kejadian penindasan fisik terhitung kurang dari sepertiga insiden penindasan yang dilaporkan oleh siswa.

Yang termasuk jenis penindasan secara fisik adalah memukul, mencekik, menyikut, meninju, menendang, menggigit, memiting, mencakar, serta meludahi anak yang ditindas hingga ke posisi yang menyakitkan, serta merusak dan menghancurkan pakaian serta barang-barang milik anak yang tertindas. Semakin kuat dan semakin dewasa sang penindas, semakin berbahaya jenis serangan ini, bahkan walaupun tidak dimaksudkan untuk mencederai secara serius.

b. Bullying Verbal
Kekerasan verbal adalah bentuk penindasan yang paling umum digunakan, baik oleh anak perempuan maupun anak laki-laki. Kekerasan verbal mudah dilakukan dan dapat dibisikkan dihadapan orang dewasa serta teman sebaya, tanpa terdeteksi. Penindasan verbal dapat diteriakkan di taman bermain bercampur dengan hingar-bingar yang terdengar oleh pengawas, diabaikan karena hanya dianggap sebagai dialog yang bodoh dan tidak simpatik di antara teman sebaya.

Penindasan verbal dapat berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritik kejam, penghinaan, dan pernyataan-pernyataan bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual. Selain itu, penindasan verbal dapat berupa perampasan uang jajan atau barang-barang, telepon yang kasar, e-mail yang mengintimidasi, surat-surat kaleng yang berisi ancaman kekerasan, tuduhan-tuduhan yang tidak benar, kasak-kusuk yang keji, serta gosip.

c.Bullying Relasional
Jenis ini paling sulit dideteksi dari luar. Penindasan relasional adalah pelemahan harga diri si korban penindasan secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan, pengecualian, atau penghindaran. Penghindaran, suatu tindakan penyingkiran, adalah alat penindasan yang terkuat.

Anak yang digunjingkan mungkin akan tidak mendengar gosip itu, namun tetap akan mengalami efeknya. Penindasan relasional dapat digunakan untuk mengasingkan atau menolak seorang teman atau secara sengaja ditujukan untuk merusak persahabatan. Perilaku ini dapat mencakup sikap-sikap tersembunyi seperti pandangan yang agresif, lirikan mata, helaan napas, bahu yang bergidik, cibiran, tawa mengejek, dan bahasa tubuh yang kasar.

d.Cyber bullying
Ini adalah bentuk bullying yang terbaru karena semakin berkembangnya teknologi, internet dan media sosial. Pada intinya adalah korban terus menerus mendapatkan pesan negative dari pelaku bullying baik dari sms, pesan di internet dan media sosial lainnya.
Bentuknya berupa:
a)Mengirim pesan yang menyakitkan atau menggunakan gambar
b)Meninggalkan pesan voicemail yang kejam
c)Menelepon terus menerus tanpa henti namun tidak mengatakan apa-apa (silent calls)
d)Membuat website yang memalukan bagi si korban
e)Si korban dihindarkan atau dijauhi dari chat room dan lainnya
f)“Happy slapping” – yaitu video yang berisi dimana si korban dipermalukan atau di-bully lalu disebarluaskan

Riauskina, dkk (2005) mengelompokkan perilaku bullying ke dalam 5 kategori :
a) Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci, seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain);
b).Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan (put-down), mengganggu, member panggilan nama (name-calling), sarkasme, mencela/mengejek, memaki, menyebarkan gosip);
c).Perilaku non verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam, biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal) ;
d)Perilaku non verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng);
e) Pelecehan seksual (kadang-kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).

6.Dampak akibat bullying

a. Dampak Perilaku Bullying Terhadap Kehidupan Individu
SEJIWA (2006) menyebutkan penelitian tentang bullying telah dilakukan baik didalam maupun di luar negeri. Penelitian-penelitian tersebut mengungkapkan bahwa bullying memiliki efek-efek negatif seperti :

a.Gangguan psikologis (seperti cemas dan kesepian)
b.Konsep diri korban bullying menjadi lebih negatif karena korban merasa tidak diterima oleh teman-temannya (Djuwita dalam SEJIWA, 2006).
c.Menjadi penganiaya ketika dewasa
d.Agresif dan kadang-kadang melakukan tindakan criminal
e.Korban bullying merasakan stress, depresi, benci terhadap pelaku, dendam, ingin keluar sekolah, merana, malu, tertekan, terancam bahkan self injury.
f.Menggunakan obat-obatan atau alkohol
g.Membenci lingkungan sosialnya
h.Korban akan merasa rendah diri dan tidak berharga
i.Cacat fisik permanen
j.Gangguan emosional bahkan dapat menjurus pada gangguan kepribadian
k.Keinginan untuk bunuh diri

b. Dampak Perilaku Bullying Terhadap Kehidupan Akademik
Penelitian lain (Zona Sekolah, 2009) menyebutkan bullying ternyata berhubungan dengan meningkatnya tingkat depresi, agresi, penurunan nilai akademik, dan tindakan bunuh diri. Bullying juga menurunkan skor tes kecerdasan dan kemampuan analisis para siswa.

c.Dampak Perilaku Bullying Terhadap Kehidupan Sosial
Remaja sebagai korban bullying sering mengalami ketakutan untuk sekolah dan menjadi tidak percaya diri, merasa tidak nyaman dan tidak bahagia (Setiawati, 2008). Aksi bullying menyebabkan seseorang mejadi terisolasi dari kelompok sebayanya karena teman sebaya korban bullying tidak mau akhirnya mereka menjadi target bullying karena mereka berteman dengan korban (Setiawati, 2008).

Sumber lain menyatakan bahwa dampak bullying adalah sebagai berikut :
a.Mengalami kesulitan membina hubungan interpersonal
b.Takut datang ke sekolah
c.Sulit berkonsentrasi
d.Ketinggalan pelajaran
e.Dampak fisik:sakit kepala,flu,sakit dada
f.Dampak psikologis:emosi negatif seperti marah, dendam , kesal,tertekan, takut,malu,sedih dsb.
g.Dampak psikologis ekstrim:rasa cemas berlebihan, ingin bunuh diri

Pada beberapa kasus lain misalnya bahkan seperti di Jepang, kasus bullying identik dengan kasus bunuh diri yang dilakukan oleh para korbannya karena mereka sudah tidak lagi melihat adanya jalan keluar dari bullying tersebut. SEJIWA mengungkapkan pada wawancara di media IMTV menyebutkan di Indonesia tertulis sejumlah 34 kasus bunuh diri karena bullying pada tahun 2011 lalu dan jumlahnya meningkat hingga dirawat di rumah sakit jiwa pada tahun 2012 ini.

7.Kasus bullying di Indonesia

Berikut ini adalah beberapa contoh kasus bullying yang terjadi di SMA di Jakarta:
1. Kasus Bullying di SMA 90 Jakarta
Para junior disuruh berlari, push up dan bahkan berkelahi di lapangan Bintaro oleh para seniornya. Bila juniornya menolak, maka akan ditampar keras. Hal ini berlangsung dari pagi hingga petang. Tercatat 31 siswa yang melakukan peristiwa bullying tersebut.

2. Kasus Bullying SMA 82 Jakarta
Seorang siswa kelas 1 bernama Ade hendak mengambil catatan geografinya yang tertinggal di kelas, namun ia melewati koridor khusus untuk anak kelas 3. Yang dinamakan “koridor Gaza”. Selain dipukuli dan ditendangi oleh sekitar 30 siswa, ia juga terpaksa dibawa ke rumah sakit karena mengalami luka cukup parah.

3. Kasus Bullying SMA 46 Jakarta
Seorang siswa bernama Okke sering dipinjami motor oleh seniornya yang berinisial B. Namun ia meminjamnya dengan cara kasar dan mengembalikannya juga dengan seenaknya. Karena kesal maka Okke tidak lagi menggubris B, akibatnya ia dipukuli, diludahi dan sebagainya. Kini Okke lebih memilih untuk home schooling.

4. Kasus Bullying SMA 70 Jakarta
Vhia dipukuli oleh 3 orang seniornya dengan alasan karena ia tidak menggunakan kaos dalam (singlet). Peraturan tersebut dibuat oleh para seniornya dan bukan oleh sekolah.

5. Kasus Bullying SMA Don Bosco Pondok Indah
Kasus ini menimpa junior yang dilaporkan mengalami tindak kekerasan berupa pemukulan dan sundutan rokok saat masa orientasi siswa. Saat ini kasus masih diproses dan dikabarkan polisi telah menahan 7 tersangka.
Sejauh ini Komisi Perlindungan Anak (KPA) telah mencatat pada tahun 2011 terjadi 139 kasus bullying dan pada tahun 2012 ini telah tercatat sejumlah 36 kasus.
Kak Seto, pakar pendidikan anak menambahkan bahwa di Indonesia mesti adanya perbaikan sistem dalam dunia pendidikan Indonesia karena kasus bullying ini terjadi baik di tingkat SMA hingga ke tingkat TK.

8.Solusi mengenai bullying

Mengapa bullying sulit untuk dihentikan, karena alasan sebagai berikut:
a.Karena kebiasaan
b.Mereka dihormati oleh anak-anak lain yang kurang berkuasa namun ingin berkuasa
c.Mereka cenderung kesulitan mengarahkan rasa marah
d.Mereka memang senang menyakiti orang lain dan tidak ingin berhenti
Bagi korban, hal ini juga sulit untuk dihentikan karena:
a.Mereka merasa tidak cukup kuat untuk melawan
b.Mereka merasa seharusnya menghentikan para bully adalah tugas orang lain
c.Mereka merasa bahwa mereka memang pantas mendapatkan perlakukan buruk tersebut

Mereka yang dinamakan “out lookers” juga sulit untuk menghentikan kegiatan bullying tersebut karena:
a.Mereka tidak tahu bagaimana membantu para korban tanpa membuat masalah baru
b.Mereka juga cemas akan keamanan mereka sendiri
c.Mereka mungkin merasa ketakutan, marah atau merasa bersalah

Lalu penyebab mengapa sekolah atau lembaga pendidikan seolah tidak berdaya menghadapi bullying adalah sebagai berikut:
a.Karena terbiasa, misalnya saat masa orientasi siswa
b.Kultur dari lembaga pendidikan tersebut yang berjalan turun temurun tanpa ada perubahan
c.Karena kurangnya pendidikan dan keakraban di dalam keluarga
d.Karena kurangnya pendidikan agama dan pelatihan moral
e.Ketidakpedulian guru dan pihak lain di sekolah
f.Paradigma atau pandangan bahwa itu hanya guyonan semata
g.Kurangnya melatih moral dan motivasi para peserta didik

Maka solusi yang bisa dilakukan antara lain adalah:
1.Meningkatkan pendidikan agama di sekolah
2.Meningkatkan pendidikan karakter dan memberikan pemahaman mengenai bullying
3.Meningkatkan hukuman yang ditegakkan di sekolah
4.Membuat kultur sekolah yang lebih baik serta positif
5.Adanya pelatihan dan semacam bimbingan baik bagi para guru, siswa dan seluruh warga sekolah mengenai bullying
6.Mengadakan program sekolah misalnya “tolerance day” untuk menjaga kultur sekolah yang baik

C.PENUTUP

Kegiatan bullying di sekolah merupakan satu masalah besar yang harus diatasi karena seharusnya sekolah melindungi siswanya dari tindakan kekerasan dalam bentuk apapun, dan menjadi wadah untuk pembentukan akal, moral dan karakter yang diperlukan untuk membangun masyarakat Indonesia yang sehat, berbudaya dan berteknologi tinggi. Masalah bullying di sekolah adalah tanggung jawab semua pihak yang ada di sekolah dan orang tua siswa. Bullying ini bisa dicegah selama semua yang terkait dalam institusi tersebut memiliki andil dan kepedulian untuk mengubah dan mencegah persoalan tersebut.

Seperti yang telah diungkapkan oleh Hellen Keller sebagai berikut,”Science may have found a cure for most evils but it has found no remedy for the worst of them all – the human apathy” [ Sains mungkin telah menemukan penyembuh bagi kebanyakan setan namun belum menemukan penyembuh bagi yang terburuk – yaitu ketidakpedulian manusia].

Sesungguhnya bullying ini bisa dicegah baik bagi pelaku maupun korban, yaitu dengan meningkatkan setidaknya perasaan empati dan kepedulian antar sesama. Agar tidak ada lagi kekerasan yang berlanjut baik di rumah, institusi pendidikan, pekerjaan dan tempat lainnya.

D.REFERENSI

_____.(2005).”Psikologi bullying dan konsep diri”.Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia
Antara.(2012).”Presiden menilai bullying”.[online] Tersedia di : www.antaranews.com

Boombox.(2011).”Why bullying happens?”.[online]. Available at : http://www.oxfordshire.gov.uk/cms/content/anti-bullying

Detik.(2012).”5 kasus bullying SMA di Jakarta”.[online].Tersedia di : http://news.detik.com/read/2012/07/31/105747/1979089/10/?992204topnews

Field,Evelyn.(2009).”Why does bullying happens?”.[online].Availabe at : www.bullying.com.au

Kurniawan,Bahri.(20120).”Kak Seto:Dunia Pendidikan harus dikoreksi”.[online]. Tersedia di : www.tribunnews.com

Miskyah,Ehan.(2009).”Bullying dalam pendidikan”.

Thornberg R, Knutsen MA. Child & Youth Care Forum doi: 10.1007/s10566-010-9129-z
Wang J et al. Journal of Adolescent Health 2009 Oct; 45(4): 368-75

VivaNews.(2012).”Bullying hantui Jepang”.[online].Tersedia di: http://dunia.news.viva.co.id/news/read/339918-bunuh-diri-karena-bullying–hantui–jepang

——
Ditulis oleh : Cynantia.R,S.Ds,Grad.Dipl.Journ

“Sick building syndrome”

Feeling sick and nausea at the office? Probably not only because of the stress of the job ! It’s also probably caused by the building. Also known as “sick building syndrome”.

“Sick building syndrome” first recognized by the World Health Organization (WHO) as a medical condition in 1982. It was first started when the building designers tried to save energy and created airtight buildings.

The term “sick building syndrome” describes a set of symptoms that are experienced by those who works in the environment but feeling better when they are away from the location. The symptoms include fatigue, headache, dizziness, shortness of breath, irritation of the nose, eyes, rashes and complaints of unpleasant odor in the workplace.

Sick building mostly causes by the heating, ventilation and air conditioning systems that is sometimes store bad chemical and pollutants that brings hazard to health issues. Most of the hazard such as mold, less fresh air intake, dust, heat and poor lighting and ventilation. Nowadays, people with green building and green environments try to make building that are more friendly with the environment with natural lighting and open space air circulation.
The sick building syndrome affect people in many different ways. From low level such as dizzy and headache, also to more worrying level such as respiratory problem and extreme rash.

To the owner or operator of the “sick building”, the symptoms may vary from one place to another but the levels may be seen from most absenteeism from the workers, low productivity and even low job satisfaction.

What to do to prevent this? One major factor is to keep the environment as clean as possible with less chemical and more natural.

There are few things that we are able to do to prevent SBS, they are:
1.Remove any pollutant source
2.Replacement of water-stained ceiling tiles and carpeting.
3.Institution of smoking restrictions.
4.Increase the number of air exchange
5.Proper and frequent maintenance of HVAC systems.

There is no treatment for those who gets “sick building syndrome”(SBS) except long rest and probably a cleaner work environment. And start to prevent SBS with the proper design and maintenance of the buildings. And most importantly, try to have a fresher air exchange instead of using air conditioner non-stop. This will hopefully will bring a healthier environment and overall, a lot of healthier workers.

—-
Written by
Cynantia Rachmijati,S.Ds,Grad.Dip.Journ

Source
www.wikipedia.com
www.answers.com

“7 habits of extraordinary people”

Ever wondered how to be as great as Steve Jobbs? Or probably as successful as the cutie pie Taylor Swift? Or wishing secretly to be as magnificent as Agnes Monica?.

Those amazing people are not your usual next-door-type of people. They work hard and they thrive towards whatever highs and lows of every aspects of their life. And yet they somehow still managed to stand up tall.

What’s the secret, you wonder? .

Not all of us are born and granted with such excellencies , but we can still try to be our best in no matter what field we do. And shine with it.

These are some habits that can take us to the “next level” and upgrade ourselves :

1.The habit of awareness
What’s the current situation? What’s the new recent development? What happened to the riot next door? Who on earth is Jokowi? Be aware and realized that knowledge is power and do good with it.

2.The habit of self-investment
Every one who is amazing, do spare some time to broaden their knowledge and expand their horizon. Read books, browsing online, take courses – are some ways to invest ourselves and be prepared with many handful skills that could be handy along the way.

3.The habit of early rising
Yes, we all know there are two types of people. Those who are early rising and those who are late sleepers. Both have its own minus and pluses. But as the phrase says “those who are early catch the worms” – must we keep in mind that those with a great habit of early rising have many head starts than those who don’t.

4.The habit of exercising
With exercise, you keep your mind and body healthy. We often heard “sound mind and sound body” but do not do as we preach. Exercise, even as mere as 10 minutes a day will do wonder to your health and will do better in terms of performance and level of energy.

5.The habit of self-love
Stop worrying about other people and spend some time for yourself. Unplugging, relaxing, having some peace and comfort by yourself. It will give us a peace of mind that we all need to do more tasks and face more challenges.

6.The habit of gratefulness
The first key to happiness is being grateful of what we have and what we have been blessed with. If we keep dwelling with what we don’t have and what others have , it won’t do good for us and will lead us to nowhere. Just be grateful though wishing to be better each and everyday.

7.The habit of relationship
As the research has shown, those who are loner tend to have a shorter age span. Then surround ourselves with as many people as we could. Friends, families, relatives, lovers – those where we can share our comfort and worries and we will have a happier life.

By following these great habits, we will at least be hopeful and preparing to greet our better self. It is better to be happier and reach higher than just sit idle and do nothing.

Just like the philosopher Kahlil Gibran says,”In the sweetness of friendship let there be laughter, and sharing of pleasures. For in the dew of little things the heart finds its morning and is refreshed”.

Be happy. Be blessed. Be grateful. And be better.

Written by:
Cynantia.R,S.Ds,Grad.Dipl.Journ

Source :
Adapted from “7 habits of extraordinary people” by Anne-Sophie Reinhardt, quoted from “Chicago Tribune” (24 Feb 2012)