Layout Image

“PENERAPAN FILSAFAT PENDIDIKAN DALAM 8 STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN INDONESIA”

“PENERAPAN FILSAFAT PENDIDIKAN DALAM 8 STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN INDONESIA”

Oleh : Cynantia Rachmijati

NIP. 1814186

Program Studi Bahasa Inggris – Dosen Bahasa Inggris – STKIP PASUNDAN – Cimahi

A.PENDAHULUAN

Indonesia, tanpa bisa dipungkiri adalah sebuah negara yang indah. Terletak di segi geografis strategis, dengan iklim tropis dan sebuah fenomena eksotis. Masih terbungkus dengan unsur-unsur tradisional namun berpadu seiring dengan arus globalisasi dan modernisasi. Namun, seperti negara berkembang pada umumnya, Indonesia juga masih berusaha terus untuk mengembangkan diri dan memperbaiki diri agar menjadi negara yang lebih baik dimasa depan.

Salah satu karakteristik dari negara berkembang adalah masih kurang baiknya manajemen sumber daya manusia, pelayanan pendidikan dan tingkat kecakapan administratif agar mendukung mereka menjadi negara yang maju.[1] Karena itu bisa dikatakan bahwa setiap tujuan negara berkembang memiliki kemiripan, yaitu diantaranya adalah :  memenuhi standar minimum pendidikan, kesehatan, perumahan dan makanan bagi masyarakat.

Untuk memperbaiki tingkat dan kompetensi pendidikan di Indonesia, maka pemerintah mengeluarkan 8 standar nasional pendidikan di Indonesia pada tahun 2005[2]. Tujuannya diantaranya adalah untuk memastikan bahwa setiap murid memiliki standar pendidikan yang sama dimanapun ia berada dan di belahan Indonesia di manapun.

Bila ditilik lebih jauh, setiap cabang ilmu akan kembali mengarah kepada filsafat. Filsafat bisa diibaratkan adalah ”sumber kehidupan” dan ”sumber kelahiran” dari setiap cabang ilmu yang ada di dunia, dan bahkan untuk pendidikan. Seperti pendapat Jean Jacqueas Rosseau, seorang filsuf dalam bidang pendidikan,” Tanaman dibentuk melalui kultivasi dan manusia dibentuk melalui pendidikan”.

Lebih jauh lagi Albert Einstein, ilmuwan yang terkenal melalui teori relativitasnya mengungkapkan bahwa manusia yang hanya mengenali satu ilmu tanpa mau mempelajari ilmu lain ibarat manusia yang memiliki rabun dekat dan menggunakan kacamata yang rusak. Albert Einstein juga mengingatkan, bahwa para pejuang dan filsuf seperti Plato, Aristoteles dan yang lainnya yang berjaya membukakan mata kita dan tidak hanya bergantung pada satu bentuk pemikiran semata. Intinya, seseorang yang maju adalah seseorang yang mau membuka matanya, menjaga pikirannya tetap sadar dan membuka diri untuk wawasan lain[3].

Untuk negara berkembang seperti Indonesia, tidak ada salahnya untuk mencoba mempelajari, menerapkan dan mengimplementasikan ilmu filsafat pendidikan ke dalam dunia pendidikan agar 8 standar nasional pendidikan tersebut dapat dicapai lebih baik dan dengan sasaran, acuan dan cakupan yang lebih bijaksana.

B.ISI

1.Tujuan Mempelajari Filsafat

Kata filsafat berasal dari perkataan Yunani yaitu philos (suka, cinta) dan sophia (kebijaksanaan). Jadi, kata itu berarti cinta terhadap kebijaksanaan (wisdom). Sikap bijaksana dalam pengambilan keputusan dalam upaya melakoni kehidupan, dari dahulu hingga sekarang tetap diperlukan[4].

Filsafat, selain sebagai sumber cabang ilmu yang mempertanyakan segala sesuatunya, juga mengajarkan kepada para penikmatnya untuk lebih bijaksana. Bangsa Indonesia, terkadang masih belum bijaksana dalam mempertimbangkan segala opsi pilihan yang ada. Hal ini terlihat dari wacana dalam gedung pemerintahan hingga lapangan sekolah. Bila opsi ini tidak dipertimbangkan, akhirnya open mind hilang dan muncullah demo, tawuran hingga kekerasan.

Menurut penulis, ada beberapa keuntungan dalam mempelajari filsafat diantaranya adalah:

a.       Seseorang diharapkan akan lebih bijaksana dan berwawasan lebih luas

b.      Dapat mencoba menemukan jawaban dan pilihan baru dari sebuah pertanyaan atau permasalahan

c.       Agar dapat lebih memiliki kesadaran diri, kritis dan lebih cerdas

d.      Agar dapat menganalisa lebih logis suatu permasalahan

2.Pengertian Filsafat dan Filsafat Pendidikan

Filsafat dari segi bahasa pada hakikatnya adalah menggunakan rasio (berpikir), tetapi tidak semua proses berpikir disebut filsafat[5]. Manusia yang berpikir, dapat diketahui dalam kehidupan sehari-hari. Jika pemikiran manusia dapat dipelajari, maka ada empat golongan pemikiran , yaitu :

a.       Pemikiran pseudo ilmiah ,yaitu pemikiran yang bertumpu pada aspek mitos

b.      Pemikiran awam, yaitu pemikiran orang dewasa yang menggunakan akal sehat

c.       Pemikiran ilmiah, yaitu pemikiran yang menggunakan metode dan hipotesis tertentu

d.      Pemikiran filosofis, yaitu pemikiran yang reflektif dan bertujuan untuk mencari pencerahan, kebenaran dan solusi.

Filsafat bisa diartikan sebagai kemampuan akal budi untuk menyelidiki objek kajiannya, yaitu hakikat, sebab musabab, asal muasal dan hukumnya. Manusia adalah makhluk luar biasa yang dilimpahkan Tuhan YME sebuah akal budi, yaitu kemampuan untuk berpikir. Karena itu filsuf modern dari Prancis bernama Rene Descartes menggemborkan ,”Cogito ergo sum” yang berarti,”Aku berpikir karena itu aku ada”[6].

Apa sesungguhnya tujuan pendidikan itu? Inilah pertanyaan yang harus dijawab filsafat pendidikan. Dalam filsafat yang bersifat dialektik, ia mempertanyakan segala sesuatunya hingga ia bisa melihatnya dari berbagai sudut pandang untuk menemukan suatu solusi kebenaran.

Menurut Prof.Dr.Hasan Langgulung, filsafat pendidikan adalah aktivitas pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai media untuk menyusun pendidikan, menyelaraskannya dan mengharmoniskannya serta menerapkan nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapainya[7].

Sebagai ilmu yang menjadi jawaban terhadap problema-problema dalam lapangan pendidikan, maka filsafat pendidikan dalam kegiatannya berfungsi sebagai berikut[8] :

1.      Merumuskan dasar-dasar dan tujuan pendidikan, konsep hakikat pendidikan dan hakikat manusia, dan isi moral pendidikan.

2.      Merumuskan teori, bentuk dan sistem pendidikan.

3.      Merumuskan hubungan antara agama, filsafat, filsafat pendidikan, teori pendidikan dan kebudayaan.

Bisa dikatakan, hasil dari filsafat kebudayaan adalah sebentuk pemikiran yang dinamakan kurikulum dan standar nasional pendidikan. Kedua bentuk tersebut adalah hasil pemikiran manusia dalam wacana filsafat pendidikan untuk memperoleh suatu bentuk sistem pendidikan yang lebih baik.

3.Aliran-aliran Filsafat Pendidikan

Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab/aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran, sekurang-kurangnya sebanyak aliran filsafat itu sendiri.

Berikut adalah aliran-aliran dalam filsafat pendidikan[9]:
1. Filsafat Pendidikan Idealisme : memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali

2. Filsafat Pendidikan Realisme : merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill.

3. Filsafat Pendidikan Materialisme  : berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural. Beberapa tokoh yang beraliran materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach

4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme : dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos.

5. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme :  memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich

6. Filsafat Pendidikan Progresivisme : bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff

7. Filsafat Pendidikan esensialisme :  Esensialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda. Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.

8. Filsafat Pendidikan Perenialisme : Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler.

9. Filsafat Pendidikan rekonstruksionisme : merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini:Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.

4.Hubungan antara Filsafat dan Pendidikan

Menurut Prof.Rupert.C.Lodge,”In this sense life is education and education is life”. Artinya, seluruh pendidikan merupakan masalah hidup dan kehidupan manusia. Karena, segala pengalaman sepanjang hidup memberikan pengaruh pendidikan bagi seseorang. Maka dapat dipahami bahwa masalah pendidikan memerlukan jawaban secara filosofis.

Bidang filsafat pendidikan adalah juga masalah hidup dan kehidupan  manusia. Dengan mengambil pengertian pendidikan secara luas, berarti masalah kependidikan mempunyai ruang lingkup yang luas pula, meliputi seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia. Sehingga otomatis keduanya saling berkaitan dan berkesinambungan satu sama lain[10].

5.Standar Pendidikan di Indonesia

Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia[11].

Standar Nasional Pendidikan terdiri dari :

a.       Standar Kompetensi Lulusan

b.      Standar Isi

c.       Standar Proses

d.      Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan

e.       Standar Sarana dan Prasarana

f.        Standar Pengelolaan

g.       Standar Pembiayaan Pendidikan

h.       Standar Penilaian Pendidikan

Fungsi dan Tujuan Standar :

a.       Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu

b.      Standar Nasional Pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

c.       Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

6.Penerapan Filsafat dalam Standar Pendidikan Indonesia

Permasalahan pendidikan di Indonesia masih banyak dan beragam yaitu kualitas pendidikan yang masih rendah dan pemerataan pendidikan yang sesuai dengan standar pendidikan nasional masih belum tercapai, sehingga ketika pemerintah melaksanakan ujian nasional maka muncul beberapa permasalahan yang tidak seimbang antara kota dan desa terutama daerah-daerah di luar pulau jawa, maka hasil UN di Indonesia tidak seimbang antara perkotaan dengan pedesaan. Hal iu disebabkan oleh belum terpenuhi standar sarana-prasana, standar proses, standar kompetensi guru dan lain-lain[12].


Jadi penerapan / implementasi filsafat ilmu dalam pendidikan adalah penerapan filsafat ilmu dalam upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya[13].

Berikut ini adalah analisa penulis mengenai aliran filsafat pendidikan dan penerapannya dalam standar pendidikan di Indonesia:

a.       Idealisme – belum ada , karena komponen nilai dalam pendidikan di Indonesia masih berubah-ubah dan pada beberapa titik sampai pada nilai “kasih sayang” dan bahkan “asal lulus”. Dalam standar kompetensi lulusan, terdapat standar nilai kelulusan yang harus dipenuhi, namun masih bergabung dengan nilai kelulusan pemberian sekolah yang cenderung menguntungkan siswa. Idealisme adalah ajaran yang sangat mementingkan keberadaan sekolah, dalam perkembangannya Indonesia masih “tertatih-tatih” untuk memperbaiki sarana dan prasarana serta keberadaannya di seluruh wilayah di Indonesia

b.      Realisme -  dalam realisme diajarkan bahwa dunia ini terdiri atas fisik dan ruhani. Meskipun sebagai Negara yang beragama, pola pemikiran para pendidik di Indonesia masih dalam taraf positivisme dan cenderung sekularisme. Sehingga dunia pendidikan dan dunia kerohanian tidak selalu sejalan, meskipun berusaha dikembangkan melalui lembaga pendidikan berlandaskan agama seperti Madrasah, Pesantren, pendekatan holistik dan lain sebagainya.

c.       Materialisme – inilah dasar pendidikan Indonesia. Dimana anggapan bahwa dengan uang yang baik maka pendidikan yang baik dapat terpenuhi. Para guru mengingatkan siswa bahwa dengan pendidikan yang baik dapat memperoleh pekerjaan yang baik maka dapat memenuhi materi yang baik pula. Tidak menonjolkan pribadi maupun wawasan yang baik bagi para muridnya maupun para pengajarnya.

d.      Pragmatisme -  dalam pragmatisme, perbuatan dipandang sebagai hasil dari suatu akibat. Maka, seseorang yang pandai adalah akibat dari usahanya belajar.  Dalam pragmatisme, usaha itu dianggap sebagai sesuatu yang bebas, terbuka dan mengakomodasi dengan baik. Dunia pendidikan Indonesia belum menerapkan pragmatisme karena dalam standar isi dan proses segala sesuatunya masih diatur kaku  oleh Pemerintah dan Departemen Pendidikan.

e.       Eksistensialisme – pada eksistensialisme, perkembangan dan pengalaman setiap individu dalam dunia pembelajarannya sangat didukung dan diutamakan. Pola pendidikan di Indonesia belum berpihak pada kebebasan individu untuk mempelajari apa yang ia suka, ia masih harus mengikuti perintah gurunya, silabus dan standar kurikulum. Meskipun tertera dalam standar mengenai peserta didik pasal 12 ayat 1 yaitu,”Peserta didik berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya”.

f.        Progresivisme – pada aliran ini berpendapat bahwa pendidikan haruslah berpusat pada anak, bukan komponen lain seperti guru atau bidang muatan. Aliran ini juga berpendapat bahwa manusia adalah pejuang yang kuat dalam lingkungan hidupnya. Aliran filsafat ini tidak mungkin diterapkan di Indonesia karena cenderung menghindari pelajaran agama dan hal-hal keruhanian.

g.       Esensialisme – yaitu aliran yang berpendapat bahwa manusia sebaiknya kembali ke kebudayaan lama dan mengingat kembali asal usulnya. Di Indonesia aliran ini diterapkan, karena aliran filsafat ini bertujuan agar manusia bisa hidup bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Dalam standar pendidikan, disebutkan dalam pendidikan agama pasal 2 ayat 1 agar manusia bisa mengamalkan nilai agama baik dalam kehidupan maupun dalam ilmu pengetahuannya.

h.       Perenialisme – adalah aliran yang banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh seperti Plato. Plato berpendapat bahwa manusia terdiri atas 3 komponen, yaitu nafsu, kemauan dan akal. Bila mampu mengorganisir baik 3 hal tersebut, maka pendidikannya akan berjalan dengan baik pula. Di Indonesia, pendekatan pendidikan secara holistic (pendidikan EQ,IQ dan SQ) sudah mulai “digaungkan” sejak beberapa waktu silam.

i.         Rekonstruktivisme – serupa dengan aliran perenialisme, namun aliran ini sangat mengutamakan kerja sama dari semua orang agar pendidikan dan kehidupan dapat berjalan dengan makmur dan sejahtera.

C.PENUTUP

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa :

1.      Filsafat adalah sumber ilmu pengetahuan dan bisa diartikan sebagai ”cinta ilmu dan kebijaksanaan”, dua hal yang bangsa Indonesia perlu untuk diterapkan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam dunia pendidikan.

2.      Filsafat ilmu pendidikan memiliki peranan penting dalam keterlibatannya dalam pengembangan imu pengetahuan terutama dalam bidang pendidikan dan implementasinya dalam pendidikan.

3.      Dalam pengembangan 8 standar pendidikan nasional Indonesia, keterlibatan dan aplikasi ilmu filsafat pendidikan dapat memperbaiki standar tersebut agar lebih sesuai dengan kondisi pendidikan bangsa Indonesia dewasa ini.

4.      Aliran filsafat pendidikan yang dapat diaplikasikan diantaranya adalah :

a)      Idealisme : agar 8 standar pendidikan tersebut dapat dikembangkan dan bersaing di dunia global.

b)      Mengurangi paham materialisme : pendidikan yang baik tidak berarti pendidikan yang mahal.

c)      Mengacu pada eksistensialisme, dimana para peserta didik boleh bebas memilih mata pelajaran yang ia suka untuk dia kembangkan sesuai dengan minat dan bakatnya.

d)      Indonesia sudah mengadaptasi paham esensialisme dan perenialisme dari pelajaran agama dan pendekatan holistiknya.

e)      Agar 8 standar pendidikan nasional tersebut berjalan baik maka diperlukan kerja sama yang baik dalam setiap komponen pendidikan (pengajar, murid, orang tua dan lain-lain). Inilah paham rekonstruktivisme, yaitu aliran filsafat pendidikan yang paling kurang diterapkan, dirasakan dan dilakukan oleh bangsa Indonesia agar menjadi bangsa yang lebih baik, maju dan berkembang.

D.DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Celso Furtado, “Economic development in Latin America(1970)”, London :  Cambridge University Press,

Chaedar Alwasilah, “Filsafat  Bahasa dan Pendidikan” (2008), Bandung : UPI

Djumransyah, “Filsafat Pendidikan(2004)”, Malang : Bayumedia

Nigel, Blake.Philosophy of Education(2003).Australia : Blackwell Publishing

Winch, Christoper & John Gingell, “Philosophy of Education: The Key Concepts” (1999), London: Routledge

Internet:

Diakses pada tanggal  14 dan 15 September 2011 dan tersedia di

Badan Standar Nasional Pendidikan  (http://www.bnsp-indonesia.org)

Philosophy of education (http://www.spaceandmotion.com/Philosophy-Education.htm)

Feed Fury Online Library (http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/05/filsafat-pendidikan.html)

Jurnal:

“IMPLIKASI DAN IMPLEMENTASI FILSAFAT ILMU DALAM PENDIDIKAN “ (Wakhudin dan Trisnahada)


[1] Celso Furtado, “Economic development in Latin America”, London Cambridge University Press, 1970

[2] Badan Standar Nasional Pendidikan  (http://www.bnsp-indonesia.org)

[4] Chaedar Alwasilah, “Filsafat  Bahasa dan Pendidikan”, UPI 2008

[5] Djumransyah, “Filsafat Pendidikan”, Bayumedia 2004

[6] Chaedar Alwasilah, “Filsafat  Bahasa dan Pendidikan”, UPI 2008

[7] Djumransyah, “Filsafat Pendidikan”, Bayumedia 2004

[8] Djumransyah, “Filsafat Pendidikan”, Bayumedia 2004

[9] http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/05/filsafat-pendidikan.html

[10] Djumransyah, “Filsafat Pendidikan”, Bayumedia 2004

[11] Badan Standar Nasional Pendidikan  (http://www.bnsp-indonesia.org)

[12] Jurnal : IMPLIKASI DAN IMPLEMENTASI FILSAFAT ILMU DALAM PENDIDIKAN

[13] Winch, Christoper & John Gingell, 1999, Philosophy of Education: The Key Concepts (2nd ed.). Routledge: London.