
Menjadi Tamu Kehormatan, UKM UTRECH STKIP Pasundan Petik Nilai Kebangsaan dari Kampung Adat Cireundeu
- 15 Jul
- 2 menit membaca
CIMAHI – Unit Training Civic Hukum Education (UKM UTRECH) STKIP Pasundan mendapatkan kesempatan istimewa sebagai tamu kehormatan dalam puncak perayaan Tradisi Tutup Taun 1959 dan Ngemban Taun 1960 Saka Sunda di Kampung Adat Cireundeu, Kota Cimahi, Sabtu (11/7/2026).
Kehadiran organisasi yang bergerak di bidang hukum dan kewarganegaraan ini bukan sekadar memenuhi undangan seremonial.
Bagi civitas UTRECH, kunjungan ini menjadi laboratorium hidup untuk mempelajari secara langsung bagaimana nilai-nilai kebangsaan, toleransi, hukum adat, serta kearifan lokal diimplementasikan dalam keseharian masyarakat.
MENGGALI KEARIFAN LOKAL MELALUI PROSESI ADAT

Selama kegiatan berlangsung, rombongan UKM UTRECH mengikuti berbagai rangkaian prosesi adat yang sarat akan makna filosofis.
Mulai dari ritual Meupeus Kendi, kirab hasil bumi dan rasi (beras singkong), doa bersama lintas iman, hingga menikmati suguhan rasi sebagai simbol kemandirian pangan masyarakat Cireundeu.
Selain itu, suasana hangat tercipta melalui pertunjukan kesenian Angklung Buncis dan Kaulinan Barudak yang memikat perhatian para peserta.
BELAJAR HUKUM DAN BUDAYA DI LUAR RUANG KELAS
Ketua UKM UTRECH, Sandra, mengungkapkan bahwa pengalaman ini memberikan perspektif baru yang tidak bisa didapatkan hanya melalui teori di ruang kelas.
Ia menilai bahwa masyarakat Cireundeu telah membuktikan bahwa harmoni antara hukum, budaya, dan kehidupan sosial dapat terjaga dengan kuat melalui kesadaran kolektif warganya.
"Sebagai UKM yang bergerak di bidang hukum dan kewarganegaraan, kami perlu melihat secara langsung bagaimana nilai-nilai kehidupan bermasyarakat dijalankan.
Saya percaya pengalaman empiris seperti ini jauh lebih membekas dibandingkan hanya mempelajari materi melalui teks," ujar Sandra di sela-sela kegiatan.
MEMBANGUN KARAKTER GENERASI MUDA YANG BERJATI DIRI
Pembina UKM UTRECH, Dr. Neneng Tripuspita, S.H., M.Pd., menyampaikan rasa bangganya melihat antusiasme dan etika anggota selama mengikuti rangkaian kegiatan. Menurutnya, Kampung Adat Cireundeu adalah ruang pembelajaran karakter yang ideal untuk menanamkan nilai kesederhanaan, penghormatan terhadap keberagaman, serta kepedulian lingkungan.
"Saya sangat bangga melihat anggota UTRECH yang begitu sopan dan menghargai tata tertib adat. Harapan saya, mereka dapat menjadikan nilai-nilai ini sebagai kompas dalam kehidupan sehari-hari, menjadi pelopor pelestarian budaya di lingkungan mahasiswa, serta memiliki filter yang kuat terhadap pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa," tutur Dr. Neneng.
KOMITMEN MENJAGA KEBINEKAAN
Kunjungan ini memberikan dampak mendalam bagi organisasi. Nilai gotong royong, musyawarah, dan penghargaan terhadap keberagaman yang disaksikan langsung oleh para anggota akan diinternalisasi untuk memperkuat budaya organisasi di lingkungan kampus.
Lebih dari sekadar kunjungan, UKM UTRECH STKIP Pasundan kini membawa pulang semangat baru untuk terus berkomitmen menjaga kebinekaan dan melestarikan budaya bangsa.
Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa di era modern, akar tradisi dan nilai-nilai kebangsaan tetap menjadi fondasi paling kokoh bagi pembentukan karakter generasi muda Indonesia.
